BEIJING – (PTTOGEL) Transisi energi global menuju sumber daya terbarukan semakin masif. Hingga tahun 2026, energi surya tetap menjadi primadona karena biaya instalasinya yang terus menurun. Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA), beberapa negara kini mendominasi peta kekuatan listrik tenaga surya di dunia.
Dominasi ini tidak hanya didorong oleh kebutuhan akan energi bersih, tetapi juga sebagai strategi ketahanan energi nasional di tengah fluktuasi harga bahan bakar fosil.
China Masih Tak Terbendung
China kembali mengukuhkan posisinya sebagai raja energi surya dunia. Dengan kapasitas terpasang yang jauh melampaui gabungan beberapa negara di bawahnya, China menyumbang lebih dari sepertiga total kapasitas panel surya global. Dukungan pemerintah yang masif terhadap industri manufaktur panel surya membuat negara ini mampu membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala raksasa dalam waktu singkat.
Daftar Negara Pemimpin Energi Surya
Selain China, berikut adalah negara-negara yang menempati posisi teratas dalam produksi listrik tenaga surya:
-
China: Memimpin dengan kapasitas ratusan gigawatt (GW) dan menjadi produsen panel surya terbesar.
-
Amerika Serikat: Terus mengejar ketertinggalan melalui insentif pajak besar-besaran bagi proyek energi hijau di negara-negara bagian seperti California dan Texas.
-
India: Melompat jauh berkat proyek PLTS gurun yang sangat luas, menjadikannya salah satu pasar energi surya dengan pertumbuhan tercepat.
-
Jerman: Pionir di Eropa yang tetap konsisten meski memiliki intensitas cahaya matahari yang lebih rendah dibandingkan negara tropis.
-
Jepang: Memanfaatkan atap-atap bangunan di perkotaan secara maksimal untuk menutupi keterbatasan lahan.
Bagaimana dengan Indonesia?
Meskipun berada di garis khatulistiwa dengan potensi matahari sepanjang tahun, Indonesia masih dalam tahap percepatan untuk masuk ke jajaran elit. Proyek strategis seperti PLTS Terapung Cirata menjadi sinyal positif bahwa Indonesia mulai serius menggarap potensi energi surya guna mencapai target Net Zero Emission.
Pakar energi menyebutkan bahwa tantangan utama bagi negara-negara berkembang adalah investasi awal dan infrastruktur jaringan listrik (grid) yang perlu dimodernisasi agar bisa menampung beban energi terbarukan yang bersifat fluktuatif.